Analisis SWOT Pada Standar Isi

Analisis SWOT Pada Standar Isi

Dalam PP No. 13 Tahun 2015 disebutkan bahwa, “Standar isi adalah kriteria mengenai ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi lulusan pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu”.[8]

 Pada standar  ini, pimpinan sekolah atau madrasah harus memiliki strategi untuk menganalisis apakah sekolah/madrasah telah memiliki dokumen kurikulum secara lengkap atau tidak, apakah telah memiliki tim pengembang kurikulum yang handal atau belum serta mampu menuntaskan ruang lingkup materi pada jenjang dan jenis pendidikan tersebut atau tidak, karena terpenuhinya standar ini akan dipengaruhi  berbagai faktor, misalnya :

Kekuatan :Sekolah/Madrasah memiliki kurikulum baku (BSNP) yang juga digunakanoleh semua sekolah sesuai dengan jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

Kelemahan:Pada kurikulum muatan lokal, sekolah tidak dapat merumuskan kurikulum muatan lokal dengan baik, tidak bersifat operasional serta kurangnya sarana/prasarana penunjang,sehingga sulit diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Peluang :   Masyarakat menaruh harapan untuk bisa memanfaatkan output yang memiliki keterampilan dari hasil pembelajaran materi muatan lokal.

Tantangan:   Karena kurikulum muatan lokal tidak memenuhi standar nasional pendidikan, serta kurangnya sarana/prasarana penunjang, sehingga para siswa tidak memiliki konsep pengetahuan serta tidak mampu mempraktekkannya (tidak memiliki keterampilan) dalam kehidupan.

                Langkah strategis : Sekolah harus membentuk team pengembangan kurikulum tingkat sekolah dengan melibatkan semua stakeholder untuk mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan kurikulum muatan lokal yang telah ada, serta merumuskan dan memperbaiki kurikulum muatan lokal tersebut.

  1.  Analisis SWOT Pada Standar Proses

Menurut PP No. 13 Tahun 2015 disebutkan bahwa,“Standar proses  adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan”.[9]

Berkaitan dengan standar proses, Prof. Dr. H. Wina Sanjaya mengemukakan bahwa :salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. [10]

baca juga :