Gunakan Cadar, 41 Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dibina

Gunakan Cadar, 41 Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dibina

Gunakan Cadar, 41 Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dibina

Gunakan Cadar, 41 Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dibina
Gunakan Cadar, 41 Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Dibina

Aturan penertiban penggunaan cadar di kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

mulai diberlakukan. Sementara ini, sebanyak 41 mahasiswi didata untuk dilakukan pembinaan karena telah memakai cadar di lingkungan kampus.

Mereka diberi konseling dan diharapkan untuk melepasnya ketika berkegiatan di kampus sesuai dengan kesepakatan sejak awal mendaftar di universitas negeri tersebut.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Yudian Wahyudi mengatakan, pendataan itu dilakukan sejak 28 Februari lalu. Didapati ada sebanyak 41 mahasiswi yang memakai cadar dari berbagai fakultas.

“Kami lakukan pembinaan dan konseling. Kami beri penjelasan bahwa sudah

menandatangani pernyataan,” katanya dalam jumpa pers yang dilakukan di kampusnya pada Senin (5/3).

Pembinaan tersebut dilakukan secara bertahap, bisa seminggu sekali. Kemudian mereka yang menggunakan cadar diberi kesempatan mendapatkan 7 kali konseling. “Jika melepaskannya, kami persilakan untuk mencari kampus yang lain,” tuturnya.

Aturan penerapan larangan penggunaan cadar di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga Yogayakarta tersebut, imbuhnya, diberlakukan sejak awal pendaftaran masuk.

Menurutnya, para mahasiswi yang kulian di UIN sejak awal telah disodori

pernyataan untuk mampu melakukan apa yang telah dijadikan sebagai aturan.

Ditegaskannya, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan kampus negeri, sehingga berdirinya sesuai dengan Islam moderat, berkeadilan, atau Islam Nusantara. “Yang bisa diterima ya moderat itu. Adil termasuk kepada diri sendiri,” ucapnya.

Penerapan larangan penggunaan cadar tersebut didasari sejumlah sebab. Mulai dari adanya kekhawatiran yang bersangkutan mengikuti suatu aliran radikal hingga hal negatif lainnya. Terlebih belum lama juga ada suatu insiden di kampusnya, yaitu banyaknya bendera HTI, sebuah organisasi yang sudah dilarang oleh pemerintah.

“Selain itu, kalau ujian misalnya. Bisa saja orang lain yang masuk, bukan orangnya. Karena memakai cadar,” katanya.

Terpisah, Juru Bicara Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Iva Aryani mengatakan, untuk kampus UGM selama ini tidak ada larangan mahasiswinya bercadar.

UGM lebih fokus untuk menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme dengan menunjukkan jati diri sebagai mahasiswa yang menjunjung nilai-nilai kebangsaan, nasionalis, pancasila seperti jati diri UGM. Proses menumbuhkan nilai dan semangat itu terus digaungkan dalam setiap kegiatan baik akademik maupun non akademik di lingkungan kampus,” ucapnya.

 

Baca Juga :