Kelebihan dan Kekurangan Perdagangan Internasional

Kelebihan dan Kekurangan Perdagangan Internasional

Krugman dan Obstfeld (2004) menjelaskan bahwa setiap negara melakukan perdagangan internasional karena dua alasan utama, yang masing-masing menjadi sumber bagi adanya keuntungan perdagangan (gains from trade) bagi mereka. Alasan pertama negara-negara berdagang adalah karena mereka berbeda satu sama lain. Bangsa-bangsa di dunia ini, sebagaimana halnya individu-individu, selalu berpeluang memperoleh keuntungan dari perbedaan-perbedaan di antara mereka melalui suatu pengaturan sedemikian rupa sehingga setiap pihak dapat melakukan sesuatu secara relatif lebih baik. Kedua, negara-negara berdagang satu-sama lain dengan tujuan untuk mencapai apa yang lazim disebut sebagai skala ekonomis (economics of scale) dalam produksi. Maksudnya, seandainya setiap negara bisa membatasi kegiatan produksinya untuk menghasilkan sejumlah barang tertentu saja, maka mereka berpeluang memusatkan perhatian dan segala macam sumber dayanya sehingga ia dapat menghasilkan barang-barang tersebut dalam skala yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan dengan jika negara tersebut mencoba untuk memproduksi berbagai jenis barang secara sekaligus. Dalam dunia nyata, pola-pola perdagangan internasional mencerminkan adanya interaksi yang terus-menerus dari kedua motif dasar di atas.
Persaingan di pasar perdagangan internasional memaksa negara untuk terus meningkatkan daya saingnya, dalam hal ini Indonesia harus dapat menemukan strategi yang tepat. Pada situasi hyper competitive tidak ada lagi negara yang dapat memiliki keunggulan daya saing berkelanjutan. Dalam situasi ini agro industri sangat tepat dilakukan karena resource base-nya dapat diperbaharui. Indonesia kaya akan sumber daya, akan tetapi belum dikelola dengan baik. World in Figure tahun 2003 yang diterbitkan oleh The Economist (UK) memaparkan bahwa Indonesia merupakan negara terluas nomor 15 di dunia. Indonesia memiliki jumlah penduduk nomor 4 di dunia. Indonesia merupakan penghasil biji-bijan nomor 6 di dunia. Indonesia juga penghasil teh nomor 6 di dunia. Indonesia merupakan penghasil kopi nomor 4 di dunia. Indonesia juga menghasilkan cokelat nomor 3 di dunia. Indonesia juga menghasilkan minyak sawit nomor 2 di dunia. Indonesia merupakan negara penghasil lada putih dan puli dari buah pala terbesar di dunia. Indonesia merupakan penghasil lada hitam nomor 2 di dunia. Indonesia juga penghasil karet alam nomor 2 di dunia. Indonesia merupakan penghasil karet sintetik nomor 4 di dunia. Indonesia juga penghasil kayu lapis terbesar di dunia. Juga Indonesia sebagai negara penghasil ikan nomor 6 di dunia. Indonesia juga penghasil LNG nomor 1 di dunia. Indonesia merupakan penghasil timah nomor 2 di dunia. Indonesia juga penghasil tembaga no 3 di dunia. Disamping itu batu-bara, minyak bumi, gas alam, emas, bauksit, aspal, nikel, granit, perak, uranium, marmer dan mineral lainnya juga dihasilkan di Indonesia (DPKLTS Barasetra Pusat, 2006).

Kekayaan alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang murah menurut Michael E. Porter tidak lagi dapat dimanfaatkan menjadi keunggulan daya saing dalam perdagangan internasional. Porter menyebutkan bahwa peran pemerintah sangat mendukung dalam peningkatan daya saing selain faktor produksi yang tersedia dalam berbagai kebijakan makronya.

Ada empat faktor penentu yang mempengaruhi keunggulan kompetitif suatu bangsa menurut Porter. Kekayaan sumber daya alam yang merupakan salah satu dari faktor produksi tidak cukup untuk mendukung keunggulan kompetitif. Faktor penentu lainnya dalam faktor produksi adalah ketersediaan sumber daya manusia, sumber daya pengetahuan (IPTEK), sumber daya modal dan sumber daya infrastruktur. Di samping faktor produksi, Keadaan permintaan dan tuntutan mutu juga menjadi faktor penentu keunggulan bersaing. Faktor penentu lainnya adalah eksistensi industri terkait dan pendukung yang kompetitif secara internasional. Untuk menjaga dan memelihara kelangsungan keunggulan daya saing maka

sumber :