Ketrampilan Membuka Diri

Ketrampilan Membuka Diri

Ketrampilan Membuka Diri

Ketrampilan Membuka Diri
Ketrampilan Membuka Diri

Rambu-Rambu Dalam Pengungkapan Diri

Menurut Nilam Widyarini (2009: 100-102) ada rambu-rambu dalam pengungkapan diri agar hubungan menjadi efektif. Rambu-rambu tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)      Lebih mengungkapkan perasaan dari pada fakta

Bila kita mengungkapkan perasaan kita terhadap orang lain, berate kita mengizinkan orang lain mengenali siapa kita sebenarnya. Contoh informasi bagaimana kita mengembangkan hubungan dengan sauadara-saudari kita membuat orang lain memahami kita dari pada sekedar memberikan informasi bahwa kita memiliki saudara.

2)      Semakin diperluas dan diperdalam

Mungkin kita masih mempunyai perasaan tidak nyaman berbagi pengalaman dengan seseorang yang seharusnya dekat denga kita. Untuk itu diperlukan pegembangan hubungan kearah yang lebih dalam (lebih mengungkapkan perasaan terhadap isu tertentu) dan diperluas (dengan mendiskusikan berbagai isu seperti pekerjaan, keluarga, religious, dan sebagainya.

3)      Fokus pada masa kini bukan masa lampau

Bila berbagai pengalaman soal masa lalu menjelaskan kenapa dulu kita melakukan tindakan tertentu adalah bersifat katarsis (melepaskan ketegangan) tetapi dapat meninggalkan perasaan bahwa kita lemah. Hal ini terjadi terutama bila keterbukaan tidak berlangsung timbale balik. Jadi lebih baik kita focus pada situasi sekarang.

4)      Timbal balik

Kita harus selalu mencocokkan tingkat keterbukaan kita dengan keterbukaan orang yang kita jumpai. Hati-hati jangan terlalu dini membuka diri, sebelum melewati masa-masa pengembangan hubungan yang familier. Disisi lain bila diperlukan, tidak perlu meninggu orang membuka diri. Jangan takut memulai langkah penting menjalin hubungan. Berikan contoh dan orang lain akan menyesuaikan diri . Bila orang tidak merespon secara seimbang hentikan langkah tersebut..

 

Kiat Memberikan Umpan Balik

Menurut Johnson (1981) umpan balik dari orang lain yang kita percaya memang dapat meningkatkan pemahaman diri kita,  yakni membuat kita sadar pada aspek-aspek diri serta konsekuensi-konsekuensi perilaku kita yang tidak pernah kita sadari sebelumnya (Supratiknya, 2004)

Tujuan umpan balik adalah memberikan informasi, konstruktif untuk menolong kita menyadari bagaimana perilaku kita dipersepsikan oleh orang lain dan mempengaruhinya. Umpan balik yang paling bermanfaat adalah umpan balik yang mampu menunjukkan kepada kita bahwa perilaku kita tidak atau belum seefektif sebagaimana kita harapkan, sehingga kita dapat mengubahnya agar lebih efektif. Sangat penting diperhatikan agar kita memberikan umpan balik jangan sampai bersifat menyerang atau menyinggung perasaan si penerima, sebab hal itu akan membuatnya defenisif, atau menutup diri.

Johnson (dalam Supratiknya, 2004: 21-22) memberikan beberapa kiat untuk memberikan umpan balik yang tidak bersifat mengancam, sebagai berikut:

Pertama, sebaiknya umpan balik kita arahkan pada perilaku, bukan pada pribadi perilakunya. Kita menunjuk pada apa yang telah dilakukan seseorang, bukan menilaki kepribadiannya.

Kedua, sebaiknya umpan balik kita ungkapkan dalam bentuk deskripsi atau pelukisan, bukan dalam bentuk penilaian. Kita menunjuk pada peristiwa pada nyata terjadi, bukan menilai baik buruknya.

Ketiga, sebaiknya umpan balik kita pusatkan pada perilaku dalam situasi spesifik tertentu, bukan pada perilaku yang abstrak. Perbuata orang senantiasa terkait pada saat dan tempat tertantu. Hanya umpan balik yang mengkaitkan perilaku pada situasi pada situasi spesifik tertentu dan diberikan segera sesudah perilaku yang dimaksud terjadi, akan meningkatkan pemahaman diri perilakunya.

Keempat, sebaiknya umpan balik diberikan segera, tidak ditunda-tunda. Semakin ditunda semakin kurang manfaatnya.

Kelima, sebaiknya umpan balik kita sampaikan dalam bentuk upaya berbagi perasaan, bukan dalam bentuk nasehat atau petuah.

Keenam, sebaiknya kita tidak memaksakan umpan balik kepada orang lain. Umpan balik harus mengabdi pada kepentingan penerima, buka kemauan si pemberi.

Ketujuh, sebaiknya umpan balik jangan di brondongkan sampai melebihi batas kemampuan penerima untuk mencamkannya. Lewat umpan balik kita bermaksud menolong si penerima, bukan memuaskan hasrat pribadikita untuk member petuah kepada orang lain.

Kedelapan, sebaiknya umpan balik kita arahkan pada perbuatan yang dapat diubah oleh orang yang bersangkutan, bukan pada ciri sifat yang apa boleh buat, harus diterimanya.

 

Akhirnya harus disadari bahwa memberi dan menerima

umpan balik menuntut keberanian, keterampilan, pengertian, penghargaan baik terhadap diri sendiri baik terhadap orang lain, serta rasa terlibat. Tujuan umpan balik adalah meningkatkan pemahaman diri orang lain serat perasaan bahwa dirinya disintai, dihargai, bahwa dirinya mampu dan berharga.

Baca Juga :