Klasifikasi Hadîts Nabi Ditinjau Dari Berbagai Aspek

Klasifikasi Hadîts Nabi Ditinjau Dari Berbagai Aspek

Klasifikasi Hadîts Nabi Ditinjau Dari Berbagai Aspek

Klasifikasi Hadîts Nabi Ditinjau Dari Berbagai Aspek

Untuk mengklasifikasikan Hadîts Nabi Muhammad SAW, dapat dilihat dari berbagai segi, di antaranya adalah:

  1. Berdasarkan Bentuk Asal

Khusus mengenai klasifikasi hadîts ditinjau dari aspek ini, tidak banyak buku yang merincinya. Penulis berasumsi bahwa pembagian ini ditarik langsung dari defenisi hadîts yang diberikan oleh ulama hadîts. Sebagaimana yang masyhûr, ulamahadîts mendefenisikan hadîts dengan

ما اضيف إلى النبى صلى الله عليه وسلم من قول او فعل او تقرير او صفة

“Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, baik perkataan, perbuatan, ketetapan maupun sifatnya”[[1]]  

Adapun pembagian hadîts ditinjau bentuk asal –sesuai dengan defenisi hadîts di atas- adalah:

  1. Hadîts Qawlîy

Hadîts Qawlîy adalah hadîts-hadîts yang beliau ucapkan berkenaan dengan berbagai tujuan pada berbagai kesempatan.[[2]] Adapun contoh darihadîts ini adalah:

حدثنا آدم بن أبي أياس قال حدثنا شعبة عن عبد الله بن أبي السفر وإسماعيل عن الشعبي عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه[[3]]

Artinya:“Telah meriwayatkan kepada kami Adam ibn abiy Iyâs dia berkata, telah meriwayatkan kepada kami Syu’bah dari Abd Allâh ibn Abi Safar dan Ismâ’îl dari al-Sya’bîy dari ‘Abd Allâh ibn ‘Amru dari Nabi SAW, Beliau bersabda:”orang Muslim adalah orang yang selamat muslim yang lain dari lidah dan tangannnya, Sedangkan orang yang hijrah adalah orang yang menjauhi apa yang dilarang Allâh terhadapnya”

  1. Hadîts Fi’lîy

Hadîts fi’lîy adalah Perbuatan-perbuatan Nabi Muhammad SAW yang disampaikan kepada kita oleh para sahabat.[[4]] Adapun contoh dari hadîts ini adalah:

عن محمد بن المنكدر قال : رأيت جابر بن عبد الله يصلي في ثوب واحد وقال رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يصلي في ثوب

Artinya: “Hadîts dari Muhammad ibn Munkadir, beliau berkata: Saya melihat Jâbir Ibn ‘Abd Allâh Shalat dengan sehelai kain, dan ia berkata:”Saya melihat Rasul Allâh shalat dengan memakai sehelai kain”  

Hadîts fi’lîy dibagi menjadi dua yaitu: Hadîts fi’lîy yang diiringi dengan perkataan Nabi, dan yang tidak diiringi dengan perkataan Nabi.[[5]]

Contoh yang diiringi dengan perkataan Nabi/Hadîts Qaulîy adalah hadîts tata cara shalat nabi yang diiringi dengan hadîts Hadîts Qaulîy berikut

صلوا كما رأيتموني أصلي[[6]]

Artinya: “Shalatlah kamu seperti bagai mana kamu melihatku melaksanakan shalat”

Hadits ini merupakan Hadits utama yang dikutip Nasiruddin Al-Baniy ketika memulai tulisannya di dalam kitab Sifat Shalat Nabi,

Khusus mengenai Hadîts fi’lîy yang tidak diiringi dengan perkataan nabi ini terdapat beberapa pembahasan penting yang menjadi sorotan para ulama terutama ulama Ushul. Mereka mempertanyakan muatan hukum yang terdapat di dalamnya, apakah wajib diikuti atau tidak. Setidaknya mengenai hal ini ulama Ushul membaginya kepada tiga bentuk, yaitu:

1)      ( افعال الجبلية ) Perbuatan yang muncul dari Rasul Allâh sebagai manusia biasa, seperti makan, minum, tidur dan berdiri. termasuk juga di dalam hal ini pengalaman hidup beliau di dalam urusan dunia seperti perdagangan, pertanian dan peperangan serta pengobatan.

2)      (افعال التي ثبت كونها مخصص لنبي ) Perbuatan Rasul yang telah ditetapkan sebagai perbuatan yang khusus untuk dirinya, seperti tahajud yang ia lakukan setiap malam, tidak menerima sedekah serta memiliki istri lebih dari empat.

3)      Perbuatan yang berkaitan dengan hukum, dan ada alasannya yang jelas. Atau perbuatan nabi yang tidak ada diikuti oleh indikasi-indikasi sebagaimana pada poin satu dan dua[[7]]

Tentang macam yang pertama dan kedua menurut ulama ushul tidak mengandung muatan hukum, sedangkan yang terakhir menjadi syariat bagi umat Islam.

  1. Taqrîrîy

Hadîts Taqrîrîy adalah Segala sesuatu yang muncul dari sementara sahabat yang diakui keberadaannya oleh Rasul Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, dengan cara diam tanpa pengingkaran atau persetujuan dan keterus terangan beliau menganggapnya baik bahkan menguatkannya.[[8]] Seperti Nabi membiarkan atau mendiamkan apa yang dilakukan oleh sahabat-Nya tanpa memberi penegasan atau pelarangan. Sikap Nabi seperti ini dijadikan hujjahatau mempunyai kekuatan hukum untuk menetapkan suatu kepastian hukum. Adapun contoh dari hadîts ini adalah: sikap Beliau terhadap ijtihâd sahabat berkenaan dengan shalat Ashr sewaktu perang melawan Bani Quraidzah. Yakni ketika beliau bersabda:

لا يصلين احد العصر الا في بني قريظة[[9]]

Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian shalat Ashr, kecuali di kampung Bani Quraidzah.

Sebagian Sahabat memang tidak melakukan shalat kecuali setelah sampai di Kampung Bani Quraidzah, sehingga mereka mentakhirkan hingga waktu Maghrib. Sedangkan yang lain justru tetap shalat di perjalanan, karena mereka memahami hadîts tersebut dengan makna perintah Rasul Allah untuk mempercepat perjalanan agar sampai di Bani Quraidzah sebelum waktu Maghrib. Berita kedua kelompok sahabat ini sampai kepada Nabi, tetapi Nabi mengakui keduanya, tanpa mengingkari salah satunya.

baca juga :