Saraf Parasimpatik

Saraf Parasimpatik

            Saraf parasimpatik adalah saraf yang berpangkal pada sumsum lanjutan (medula oblongata) dan dari sakrum yang merupakan saraf pre-ganglion dan post-ganglion.  Sistem saraf parasimpatik disebut juga dengan sistem saraf kraniosakral, karena saraf preganglion keluar dari daerah otak dan daerah sakral. Fungsi saraf parasimpatik umumnya memperlambat kerja organ-organ tubuh. Susunan saraf parasimpatik berupa jaring- jaring yang berhubung-hubungan dengan ganglion yang tersebar di seluruh tubuh. Urat sarafnya menuju ke organ tubuh yang dikuasai oleh susunan saraf simpatik.

            Sistem saraf parasimpatik memiliki fungsi yang berkebalikan dengan fungsi sistem saraf simpatik. Misalnya pada sistem saraf simpatik berfungsi mempercepat denyut jantung, sedangkan pada sistem saraf parasimpatik akan memperlambat denyut jantung. Berikut adalah fungsi dari sistem saraf parasimpatik.

  1. Menghambat denyut jantung
  2. Memperlebar diameter pembuluh darah
  3. Mempercepat proses pencernaan
  4. Memperlebar bronkus
  5. Menaikkan tekanan darah
  6. Mempercepat gerak peristaltis
  7. Mempersempit pupil
  8. Mempercepat sekresi empedu
  9. Menaikkan sekresi ludah
  10. Meninurunkan sekresi adrenalin.

2.15.   Fisiologi  Aliran Darah Otak, Cairan  Serebrospinal, dan Metabolisme    pada otak

  1. Fisiologi  Aliran Darah Otak,

            Sistem saraf pusat (SSP) diisi oleh jaringan yang kaya pembuluh darah untuk memenuhi kebutuhan yang berubah-rubah dari metabolisme saraf lokal dan regional. Aliran darah otak (CBF) dapat dilihat dari 2 sudut pandang: ciri umum, dan gambaran unik dari SSP.

  • Ciri Umum Aliran Darah

            Sifat alami darah adalah bahwa substansi tertentu (leukosit, eritrosit, dan trombosit) tersuspensi dalam  plasma. Komponen darah cenderung untuk berkumpul di bagian tengah aliran, dan akan bervariasi sesuai ukuran lumen, sehingga sifat darah di arteri yang lebih besar tidak dapat disamakan dengan pembulih darah yang lebih kecil. Lebih jauh lagi, pernyataan tentang tekanan darah, aliran darah, dan perfusi jaringan harus dipertimbangkan sesuai pulsasi aliran darah.

            Faktor-faktor lain juga mempengaruhi aliran darah, meliputi suhu lokal dan pH, tekanan oksigen dan karbondioksida, K+, H+, HCO3  pada jaringan dan darah; hematokrit, cardiac output, tekanan darah, faktor neurogenik, tahanan vaskuler, dan lainnya termasuk mediator saraf dan kimiawi.

  1. Cairan Serebrospinal

            Cairan ini disalurkan oleh pleksus koroid ke dala ventrikel yang ada dalam otak kemudian masuk ke dalam kanalis sumsum tulang belakang, lalu ke ruang subarakhnoid melalui ventrikularis. Setelah melintasi seluruh ruangan otak dan sumsum tulang belakang, akan kembali ke sirkulasi melalui granulasi arakhnoid pada sinus sagitalis superior. Perjalanan cairan serebrospinalis , setelah meinggalkan ventrikel lateralis I dan II, cairan otak dan sumsum tulang belakang akan menuju ventrikel III melalui Foramen monro masuk ke ventrikel IV melalui akuaduktus Sylvius, kemudian cairan dialirkan ke bagian medial foramen megendie (  foramen of Magendie ) selanjutnya ke sisterna magna. Cairan tersebut akan membasahi bagian – bagian dari otak dan akan diabsorbsi oleh vili-vili yang terdapat pada arakhnoid. Jumlah cairan ini tidak tetap, berkisar 80-200 cc dan mempunyai sifat alkalis. Komposisi cairan serebrospinalis terdiri atas air, protein, glukosa, garam-garam, sedikit limfosit dan karbondioksida.

          Beberapa fungsi cairan serebrospinalis adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan kelembaban otak dan medulla spinalis.
  2. Melindungi alat – alat dalam medulla spinalis dan otak dari tekanan.
  3. Melicinkan alat – alat dalam medulla spinalis dan otak.

Sumber :

https://littlehorribles.com/